Brahma Turun ke Dunia sebagai Pandai Besi
Narasi ini akan membawa kita kembali ke "titik nol" peradaban, yakni sebuah masa transisi dari kekosongan menuju tatanan hidup yang sempurna. Kisah ini bukanlah sekadar cerita tentang penciptaan manusia dari kepalan tanah. Dalam cerita ini para dewa turun tangan secara langsung untuk memanusiakan manusia. Salah satunya, adalah hyang Brahma yang menjadi junjungan warga Pande di Bali. Sumber cerita ini saya sarikan garis besarnya dari lontar Tantu Panggelaran, dengan beberapa modifikasi narasi. Tantu Panggelaran merupakan salah satu teks monumental dalam kesusastraan Nusantara. Teks ini berasal dari Jawa namun banyak juga dilestarikan di Bali dalam bentuk lontar.
Pada zaman bahari tidak ada manusia, apalagi gunung tinggi di Pulau Jawa. Gunung Mandaragiri yang agung dijadikan sebagai pertanda alam bertempat di tanah Jambudwipa. Oleh sebab itu, maka Pulau Jawa tidak berhentinya bergoyang terombang-ambing. Muncullah niat Bhatara Jagat Pramana beserta Bhatari Parameswari untuk bersemadi di Pulau Jawa. Turunlah beliau di sana, sehingga ada tempat yang disebut Dihyang. Itu adalah tempat bersemadinya Bhatara di zaman dahulu.
Setelah sekian lama bersemadi, diutuslah sang hyang Brahma dan Wisnu untuk menciptakan manusia. Kedua dewa itu tidak menolaknya, tanah lalu dikepal-kepalnya, dibuat menjadi manusia yang sempurna bagaikan wujud dewa. Manusia yang laki-laki dibuat oleh hyang Brahma, sedangkan yang perempuan dibuat hyang Wisnu. Tempat Bhatara membuat manusia lalu dinamakan Gunung Pawirikan. Kedua manusia ciptaan Bhatara lalu dipertemukan. Mereka beranak, bercucu, berbuyut turun-temurun sehingga manusia menjadi semakin banyak. Mereka hidup tanpa rumah, tanpa busana, tanpa tauladan, berkata-kata tanpa tahu arti dan maksudnya. Demikianlah kehidupan manusia kala itu.
Para dewa lalu menghadap Bhatara Guru untuk memohon pemecahan masalah itu. Bhatara Guru lalu menitahkan para dewa.
“Wahai anakku hyang Brahma, turunlah engkau ke tanah Jawa, buatlah barang-barang tajam bagi manusia, seperti panah, parang, tatah, pasak, beliung, segala macam peralatan kerja manusia. Engkau bernama Pande Besi. Karena mpu (mpu/mpol: ibu jari) kaki yang kau pakai untuk menajamkan besi, maka Pande Besi dinamakan Mpu! Kemudian anakku Hyang Wiswakarma, turunlah engkau untuk membuat rumah agar ditiru oleh manusia di sana. Bernamalah engkau Undagi. Anakku Hyang Iswara, hendaknya turunlah engkau untuk mengajarkan manusia belajar berbicara, perkenalkan ia dengan bahasa, terutama tentang ajaran Dasa Sila dan Panca Siksa. Jadilah engkau guru untuk para masyarakat, oleh sebabnya Guru Desa namamu di tanah Jawa. Hyang Wisnu engkau semestinya turun ke tanah Jawa, seluruh perkataanmu akan dipatuhi, semua tingkahmu akan ditiru, engkau adalah guru umat manusia. Jadilah engkau raja penguasa dunia! Lalu Hyang Mahadewa turunlah engkau menjadi Pande Mas untuk membuat pakaian dan perhiasan manusia. Bhagawan Ciptragupta turunlah untuk melukis, buat warna-warna meniru berbagai wujud dalam pikiranmu, karena menggunakan alat ibu jari tangan, maka pekerjaanmu melukis dinamakan Mpu Ciptangkara.”
Demikianlah pesan Bhatara Guru kepada para dewa. Para dewa menuruti perintah beliau dan segera turun ke tanah Jawa.
Hyang Brahma menjadi Pande Besi. Di puncak yang kini dikenal sebagai Gunung Brahma, langit tak lagi biru. Warnanya berubah tembaga, terpanggang oleh aura merah yang memancar dari raga sang dewa pencipta. Hyang Brahma turun melakukan semadi, bukan semadi dalam diam, melainkan semadi dalam bentuk kerja (karma) dalam dentum yang mampu menggetarkan seluruh dunia.
Sang dewa berdiri dan mewujudkan sebongkah logam mentah yang masih bisu. Di tangannya, elemen paling dasar dalam kehidupan berupa Panca Maha Bhuta (lima elemen pembangun semesta) diberdayakan sebagai alat-alat bengkel surgawi yang perkasa. Pertiwi ia tekan dengan kehendaknya, menjadikannya landasan tempa yang tak tergoyahkan oleh guncangan sedahsyat apa pun. Apah diperintahkan untuk mengental, menjadi sepit dengan cengkeraman terkuat di dunia. Akasa mampu digenggam dan diubah menjadi palu raksasa. Sebuah palu raksasa sebesar pohon tal. Setiap dentumannya memecah peradaban.
Teja pun berkobar hebat menyirnakan kegelapan. Di belakangnya, Bayu menderu tanpa henti, menjadi hembusan napas yang memompa bara hingga mencapai puncak panas teroptimal.
Hyang Brahma mulai bekerja. Ia menggunakan tubuhnya sendiri. Dengan ibu jari kakinya yang keras bagai batu karang ia menjepit, menekan, dan menajamkan besi yang membara merah.
Setiap dentuman palu Akasa yang menghantam landasan Pertiwi melahirkan percikan bunga api yang terbang ke angkasa, menjadi saksi lahirnya perkakas pertama manusia. Parang yang sanggup membelah belantara, beliung yang mampu merobohkan kayu raksasa, dan tatah yang akan mengukir sejarah.
Berikutnya, Bhagawan Wiswakarma turun menjadi Undagi, semua manusia menirunya, sehingga muncullah rumah-rumah di desa bernama Medang Kamulan. Itulah tempat awal mula manusia memiliki rumah. Hyang Iswara turun mengajarkan manusia bahasa, tutur kata dan etika, lalu Bhatara Wisnu dan Bhatari Sri turun dari awang-awang, menjadi raja di Medang Kamulan dengan nama Hyang Kandyawan. Bhatara Mahadewa dan Bhagawan Ciptagupta pun ikut turun menyertainya. Pada akhirnya manusia mengetahui cara memintal, menenun, berpakaian dan berhias. Semuanya terkait dengan peran para dewa di baliknya.
Tumpek Klurut, Purnama Kapitu 3 Januari 2026
Catatan:
Pertiwi: unsur padat.
Apah: unsur cair.
Teja: unsur panas.
Bayu: unsur udara.
Akasa: unsur ether.